Jumat, 19 Maret 2010

Sejarah Korea Utara



Korea Utara, resminya Republik Demokratik Rakyat Korea (Hangul: 조선민주주의인민공화국, Chosŏn Minjujuŭi Inmin Konghwaguk), adalah sebuah negara di Asia Timur, yang meliputi paro utara Semenanjung Korea. Ibukotanya adalah Pyongyang, sekaligus sebagai kota terbesarnya. Zona Demiliterisasi Korea berperan sebagai daerah penyangga antara Korea Utara dan Korea Selatan. Sungai Amnok dan Sungai Tumen membentuk perbatasan antara Korea Utara dan Republik Rakyat Cina. Suatu bagian dari Sungai Tumen di timur-utara jauh adalah perbatasan dengan Rusia.
Penduduk setempat menyebut negara ini Pukchosŏn (북조선, "Chosŏn Utara").Semenanjung Korea diperintah oleh Kekaisaran Korea hingga diduduki oleh Jepang setelah Perang Rusia-Jepang pada 1905. Maka terjadilah pembagian menjadi wilayah pendudukan Soviet dan Amerika pada 1945, mengikuti akhir Perang Dunia II. Korea Utara menolak ikut serta di dalam pemilihan umum yang diawasi PBB yang diselenggarakan di selatan pada 1948, yang mengarah kepada pembentukan dua pemerintahan Korea yang terpisah oleh zone demiliterisasi. Baik Korea Utara maupun Korea Selatan kedua-duanya mengklaim kedaulatan di atas seluruh semenanjung, yang mengarah kepada Perang Korea pada 1950. Sebuah gencatan senjata pada 1953 mengakhiri pertempuran; namun kedua-dua negara secara resmi masih memelihara status perang satu sama lain, karena perjanjian perdamaian tidak pernah ditandatangani. Kedua-dua negara diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1991 Pada 26 Mei 2009, Korea Utara secara sepihak menarik diri dari gencatan senjata.


Korea Utara adalah sebuah negara satu-partai di bawah barisan penyatuan yang dipimpin oleh Partai Buruh Korea. Gaya pemerintah negara itu mengikuti ideologi kepercayaan-diri Juche, yang dibangun oleh Kim Il-sung, mantan pemimpin negara ini. Juche menjadi ideologi resmi negara ketika negara ini mengadopsi konstitusi baru pada 1972, kendati Kim Il-sung telah menggunakannya untuk membentuk kebijakan sejak sekurang-kurangnya awal tahun 1955.Sementara resminya sebagai republik sosialis, Korea Utara dipandang oleh sebagian besar negara sebagai negara kediktatoran totaliter stalinis. Pemimpin saat ini adalah Kim Jong-il, putera dari Presiden Abadi Kim Il-sung.
Dampak dari penjajahan Jepang atas Korea yang berakhir dengan kekalahan Jepang di Perang Dunia II pada 1945, Korea dibagi pada garis khayal 38 derajat Lintang Utara mengikuti persetujuan dengan PBB, diadministrasi oleh Uni Soviet di utara dan oleh Amerika Serikat di selatan. Sejarah Korea Utara resminya dimulakan dengan pembentukan Republik Rakyat demokratik pada 1948.
Pada Agustus 1945, Tentara Soviet membentuk Otoritas Sipil Soviet untuk memerintah negara ini hingga sebuah rezim domestik, yang ramah kepada Uni Soviet, dapat dibentuk. Setelah ketibaan tentara Soviet pada 1948, agenda utama pada tahun berikutnya adalah penyatuan Korea dari kedua belah pihak, namun konsolidasi rezim Syngman Rhee di Selatan dengan dukungan militer Amerika dan tekanan pemberontakan Oktober 1948 mengakhiri harapan bahwa negara ini dapat dibersatukan kembali menurut cara revolusi Komunis di Selatan.
Pada 1949, sebuah campur tangan militer kepada Korea Selatan dilakukan oleh Rezim Utara tetapi gagal menerima dukungan dari Uni Soviet, yang memainkan peran kunci dalam pembentukan negara ini. Penarikan sebagian besar kekuatan militer Amerika Serikat dari Selatan pada Juni secara dramatik memperlemah Rezim Selatan dan menyemangati Kim Il-sung untuk memikirkan kembali suatu rencana serangan melawan Selatan. Gagasan itu sendiri pertama ditolak oleh Joseph Stalin tetapi dengan perkembangan persenjataan nuklir Soviet, kejayaan Mao Zedong di Cina dan pertanda dari bangsa Cina bahwa mereka dapat mengirimkan serdadu dan sokongan lainnya ke Korea Utara, Stalin menyetujui penyerangan yang menjadi cikal bakal Perang Korea.

Perang Korea adalah sebuah silang sengketa militer antara Korea Utara dan Korea Selatan dengan peperangan besar yang dimulakan pada 25 Juni 1950, dihentikan sementara dengan gencatan senjata yang ditandatangani pada 27 Juli 1953. Silang sengketa itu berasal dari upaya-upaya dua kekuasaan Korea untuk membersatukan kembali Korea di bawah pemerintahan mereka masing-masing dan mengarah kepada perang berskala penuh yang menghabiskan lebih daripada 2 juta orang sipil dan prajurit dari kedua belah pihak. Periode ini segera sebelum perang ditandai dengan menyulut silang sengketa perbatasan pada 38 derajat Lintang Utara dan berupaya menegosiasi pemilihan umum bagi keutuhan Korea. Negosiasi ini berakhir ketika Tentara Rakyat Korea menginvasi Selatan pada 25 Juni 1950. Di bawah restu PBB, sekutu-sekutu Amerika Serikat ikut campur tangan kepada pihak Korea Selatan. Setelah kemajuan yang cepat di dalam pertahanan penyeimbang Korea Selatan, tentara Cina yang bersekutu kepada Utara ikut campur tangan kepada pihak Korea Utara, dan pada akhirnya mengarah kepada gencatan senjata yang hampir meletakkan kembali perbatasan asli antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Sementara beberapa pihak menganggap silang sengketa ini sebagai perang saudara, ada banyak faktor lain yang bermain. Perang Korea juga merupakan konfrontasi tentara pertama di era Perang Dingin dan menjadi standar bagi banyak silang sengketa terkemudian. Perang ini menciptakan gagasan perang surat kuasa (perang antar dua kekuatan yang menggunakan pihak ketiga untuk dijadikan media agar perang tidak berhadapan secara langsung), di mana dua adidaya akan berjuang di negara lain, memaksa rakyat di negara itu untuk merasakan kehancuran dan kematian terlibat di dalam perang antar dua bangsa besar itu. Para adidaya mencegah sampai terjadi perang habis-habisan satu sama lain, juga saling balasnya penggunaan senjata nuklir. Perang ini juga memperluas Perang Dingin, hal ini menarik perhatian Eropa. Sebuah zona demiliterisasi yang dijaga ketat pada 38 derajat Lintang Utara memelihara pembagian semenanjung hingga kini yang menyisakan perasaan anti-komunis dan anti-Korea Utara di pihak Korea Selatan.
Sejak penghentian tembak-menembak di dalam Perang Korea pada 1953, hubungan antara pemerintah Korea Utara dan Korea Selatan, Uni Eropa, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang menjadi tegang. Pertempuran dihentikan dengan gencatan senjata, tetapi kedua-dua Korea secara teknis masih perang. Baik Utara maupun Selatan menandatangani Deklarasi Kerjasama Utara-Selatan 15 Jun pada 2000, di mana kedua-dua pihak berjanji untuk berupaya penyatuan kembali dengan cara damai. Selain itu pada 4 Oktober 2007, para pemimpin dari Utara dan Selatan bergandengan tangan untuk mengadakan rapat puncak yang membicarakan pernyataan penghentian perang secara resmi dan mengukuhkan kembali prinsip saling non-agresi
Korea Utara dan Selatan tidak pernah menandatangani perjanjian perdamaian dan dengan demikian secara resmi masih dalam status perang; hanya sebuah gencatan senjata yang diumumkan. Pemerintah Korea Selatan menjadi didominasi oleh militernya dan sbuah perdamaian yang relatif telah disela oleh beberapa pertempuran kecil dan upaya pembunuhan di perbatasan. Utara gagal di dalam beberapa upaya pembunuhan terhadap pemimpin Korea Selatan, yang paking dikenal pada 1968, 1974, dan Pengeboman Rangoon pada 1983; terowongan seringkali ditemukan di bawah Zona Demiliterisasi dan perang hampir meletuskan insiden pembunuhan kapak di Panmunjeom pada 1976. Pada 1973, rahasia yang sangat penting, kontak tingkat-tinggi mulai dihantarkan melalui kantor-kantor Palang Merah, tetapi berakhir setelah insiden Panmunjeom dengan sedikit kemajuan telah dibuat dan gagasan bahwa dua Korea akan bekerja sama di dalam organisasi-organisasi internasional secara terpisah.
Di penghujung 1990-an, Selatan mengalami peralihan menuju demokrasi, keberhasilan kebijakan Nordpolitik, dan kekuasaan di Utara diambil alih oleh putranya Kim Il-sung Kim Jong-il, kedua-dua negara itu mulai begandengan tangan di depan umum untuk kali pertama, di mana Selatan meluncurkan Kebijakan Cuaca Cerah.
Pada 2002, Presiden Amerika Serikat George W. Bush menjuluki Korea Utara sebagai bagian dari "poros kejahatan" dan sebuah "outpost of tyranny". Kontak tingkat-tinggi yang pernah dilakukan pemerintah Korea Utara dengan Amerika Serikat adalah dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeleine Albright, yang berkunjung ke Pyongyang pada 2000, tetapi kedua-dua negara itu tidak menjalin hubungan diplomatik yang resmi.Pada 2006, hampir 37.000 serdadu Amerika masih tersisa di Korea Selatan, kendati sejak Juni 2009 jumlah ini berkurang menjadi sekira 30.000 saja. Kim Jong-il secara pribadi menerima kehadiran tentara Amerika Serikat di Semenanjung Korea, bahkan setelah menyatunya kembali Korea. Bagaimanapun secara umum, Korea Utara sangat menuntut penarikan serdadu Amerika dari Korea.
Pada 13 Juni 2009, kantor berita Amerika Serikat, Associated Press, melaporkan bahwa sebagai tanggapan bagi sanksi-sanksi baru dari PBB, Korea Utara menyatakan bahwa pihaknya akan melanjutkan program pengayaan uranium. Ini menandai kali pertama Pemerintah Korea Utara mengakui di depan publik dunia bahwa pihaknya memang melakukan program pengayaan uranium. Pada Agustus 2009, mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton bertemu dengan Kim Jong-il untuk menjamin pembebasan dua orang wartawan Amerika Serikat.
Korea Utara menguasai paro utara Semenanjung Korea, meliputi wilayah seluas 120.540 km² (46,541 mil²). Korea Utara berbagi perbatasan darat dengan Republik Rakyat Cina dan Rusia di utara, dan Korea Selatan di sepanjang Zona Demiliterisasi Korea. Di baratnya terdapat Sungai Kuning dan Teluk Korea, dan di timurnya terdapat Jepang di seberang Laut Jepang (Laut Timur Korea). Titik tertinggi di Korea Utara adalah Gunung Paektu-san di ketinggian 2.744 m (9,003 kaki). Sungai terpanjang adalah Sungai Amnok yang mengalir sepanjang 790 kilometre (491 mi).
Iklim Korea Utara relatif sedang, dengan curah hujan yang lebih besar pada musim panas sepanjang periode hujan yang singkat yang disebut changma, dan musim dingin yang sangat menusuk tulang. Pada 7 Agustus 2007, banjir yang paling meluluh-lantakkan sejak 40 tahun terakhir menyebabkan Pemerintah Korea Utara meminta bantuan kepada dunia internasional. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat atau Organisasi Non-Pemerintah, semisal Palang Merah, meminta rakyat untuk mengumpulkan dana karena mereka mengkhawatiri bencana kemanusiaan.
Pusat pemerintahan Korea Utara sekaligus menjadi kota terbesarnya adalah Pyongyang; kota-kota besar lainnya di antaranya adalah Kaesong di selatan, Sinuiju di utara-barat, Wonsan dan Hamhung di timur, dan Chongjin di utara-timur.
Para wisatawan dari Eropa yang mengunjungi Korea menyatakan bahwa negara itu menyerupai "laut di tengah-tengah angin ribut" karena banyaknya rentang perbukitan yang silih berganti menyelang-nyelingi semenanjung itu. Kira-kira 80% daratan Korea Utara terdiri dari beberapa gunung dan dataran tinggi, dipisahkan oleh lembah-lembah yang dalam dan sempit, dengan segala pegunungan semenanjung yang berketinggian 2.000 meter di atas muka laut bahkan lebih, yang terletak di Korea Utara. Dataran pesisir adalah luas di barat tersekat-sekat di timur. Sebagian besar penduduk menetap di daratan rendah.
Titik tertinggi di Korea Utara adalah Gunung Baekdu yang merupakan sebuah gunung berapi di dekat perbatasan Cina dengan dataran tinggi lava basalt dengan ketinggian antara 1.400 sampai 2.000 meter di atas muka laut. Pegunungan Hamgyong, berada di bagian paling utara-timur semenanjung, punya banyak puncak tinggi termasuk Gwanmosan di ketinggian hampir 1.756 m (5,761 kaki). Pegunungan besar lainnya adalah Pegunungan Rangrim, yang terletak di bagian utara-tengah Korea Utara dan membentang pada arah utara-selatan, membuat komunikasi antara bagian barat dan timur negara ini cukup sulit; dan Pegunungan Kangnam, yang membentang di sepanjang perbatasan RRC-Korea Utara. Geumgangsan, sering juga ditulis sebagai Gunung Kumgang, atau Gunung Berlian, (setinggi hampir 1.638 meter di atas muka laut) di Pegunungan Taebaek, yang memanjang hingga ke Korea Selatan, terkenal melalui panoramanya yang indah.
Pada umumnya, dataran yang ada adalah kecil/sedikit-sedikit. Yang paling luas adalah dataran Pyongyang dan Chaeryong, masing-masingnya seluas 500 kilometer persegi. Karena gunung-gunung di pesisir timur menghunjam tajam ke laut, dataran yang ada bahkan lebih kecil daripada yang ada di pesisir barat. Tidak seperti tetangganya, Jepang atau Cina bagian utara, Korea Utara mengalami gempa bumi yang lebih jarang.
Korea Utara memiliki iklim benua dengan empat musim yang berbeda-beda. Musim dingin yang panjang memberikan sensasi sejuk yang menusuk dan cuaca jernih yang berpadu dengan badai lembut salju, sebagai hasil dari perpaduan angin utara dan angin utara-barat yang berhembus dari Siberia. Curah hujan salju rata-rata adalah 37 hari di sepanjang musim dingin. Cuacanya cenderung bengis di utara, wilayah pegunungan. Musim panas cenderung singkat, panas, lembab, dan berhujan karena adanya angin monsoon dari selatan dan tenggara yang membawa uap air dari Samudra Pasifik. Taifun pasifik memengaruhi semenanjung itu paling sedikit sekali setiap musim panas. Musim semi dan musim gugur adalah musim peralihan yang ditandai oleh suhu yang sedang dan angin yang bervariasi, dan memberikan cuaca yang paling nyaman. Bencana alam di antaranya kemarau panjang di penghujung musim semi yang seringkali diikuti oleh banjir. Terdapat badai tropis yang jarang terjadi di sepanjang permulaan musim gugur.
Literatur dan seni di Korea Utara dikendalikan sepenuhnya oleh negara, sebagian besar di antaranya melalui Propaganda dan Agitasi Departemen atau Departemen Kebudayaan dan Kesenian Komite Pusat disingkat menjadi KWP (menurut bahasa Korea).
Kebudayaan Korea mengalami penindasan pada masa penjajahan Jepang sejak 1910 hingga 1945. Jepang memaksakan kebijakan asimilasi budaya. Selama masa penjajahan itu, bangsa Korea dipaksa belajar dan berbahasa Jepang, mengadopsi sistem nama keluarga Jepang dan agama Shinto, dan dilarang menulis atau berbicara menggunakan bahasa Korea di dalam sekolah, perdagangan, atau tempat-tempat umum lainnya. Selain itu, bangsa Jepang menukar atau mengganti berbagai monumen Korea, termasuk juga Istana Gyeongbok dan dokumen-dokumen yang menggambarkan bangsa Jepang dari sudut pandang buruk diralat.
Pada Juli 2004, Kompleks Pekuburan Goguryeo menjadi situs pertama di negara ini yang dimasukkan ke dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.
Pada Februari 2008, New York Philharmonic Orchestra menjadi kelompok musik Amerika Serikat pertama yang melakukan pertunjukan di Korea Utara, meskipun hanya untuk "penonton undangan" yang dipilih. Konser ini disiarkan oleh televisi nasional.
Sebuah acara popular di Korea Utara adalah Permainan Massal. Permainan Massal dan terkini dan terbesar disebut "Festival Arirang". Acara ini diselenggarakan selama enam malam berturut-turut setiap dua bulan, dan melibatkan lebih dari 100.000 peserta. Penonton acara ini di beberapa tahun belakangan melaporkan bahwa perasaan anti-Barat selalu saja semakin menurun. Permainan Massal melibatkan pertunjukan tarian, senam, dan sederetan koreografi yang merayakan sejarah Revolusi Korea Utara dan Partai Buruh. Permainan Massal dilakukan di Pyongyang di beberapa tempat (sesuai dengan skala. Permainan pada tahun tertentu) misalnya saja Stadion Hari Buruh Rungrado, yang merupakan stadion terbesar di dunia dengan daya tampung 150.000 orang.
Korea Utara adalah negara yang menyatakan secara sepihak sebagai negara Juche (percaya dan bergantung kepada kekuatan sendiri) dengan pemujaan kepribadian yang dikemukakan secara terorganisasi terhadap Kim Il-sung (pendiri juga presiden yang pertama dan satu-satunya negara ini) dan puteranya yang menjadi pewarisnya, Kim Jong-il. Mengikuti mangkatnya Kim Il-sung pada 1994, dia tidak digantikan melainkan memperoleh gelar "Presiden Abadi", dan dikuburkan di Istana Memorial Kumsusan di Pyongyang pusat.
Meskipun kedudukan aktif presiden telah dihapus untuk menghargai Kim Il-sung, kepala negara de fakto adalah Kim Jong-il, yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara. Legislatur Korea Utara adalah Majelis Rakyat Agung, kini diketuai oleh Presiden Kim Yong-nam. Tokoh pemerintahan senior lainnya adalah Perdana Menteri Kim Yong-il.
Korea Utara adalah negara yang menganut satu partai. Partai yang memerintah adalah Barisan Demokratik untuk Reunifikasi Tanah Air, sebuah koalisi Partai Buruh Korea dan dua partai kecil lainnya, Partai Demokratik Sosial Korea dan Partai Chongu Chondois. Partai-partai ini mengajukan semua calon untuk menempati kantor pemerintahan dan memegang semua kursi di Majelis Rakyat Agung.
Pada Juni 2009, dilaporkan oleh sebuah media Korea Selatan bahwa terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa calon pemimpin Korea Utara berikutnya adalah Kim Jong-un, putera termuda Kim Jong-il (Kim Jong-il memiliki tiga putera)
Korea Utara telah memelihara hubungan yang akrab dengan RRC dan Rusia dari sejak lama. Kejatuhan komunisme di Eropa Timur pada 1989, dan terpecah-belahnya Uni Soviet pada 1991, berdampak pada semakin berkurangnya bantuan kepada Korea Utara dari Rusia, meskipun Cina tetap saja memberikan bantuan penting. Korea Utara memelihara ikatan yang kuat dengan sekutu sosialisnya di Asia Tenggara, yaitu Vietnam, Laos, dan Kamboja.
Korea Utara telah memulai pembangunan Pagar Perbatasan Cina-Korea di perbatasan utara, sebagai tanggapan bagi harapan Cina yang ingin mengekang para pengungsi yang melarikan diri dari Korea Utara. Sebelumnya, perbatasan antara Cina dan Korea Utara hanya diawasi oleh sedikit petugas patroli.
Hasil dari program senjata nuklir Korea Utara, pembicaraan enam-pihak diselenggarakan untuk mencari penyelesaian damai terhadap ketegangan di antara dua pemerintah Korea, Federasi Rusia, Republik Rakyat Cina, Jepang, dan Amerika Serikat.
Pada 17 Juli 2007, para inspektur PBB memverifikasi penutupan lima fasilitas nuklir Korea Utara, menurut perjanjian Februari 2007.
Pada 4 Oktober 2007, Presiden Korea Selatan (Roh Moo-Hyun) dan pemimpin Korea Utara (Kim Jong-il) menandatangani sebuah perjanjian damai berisi delapan pasal, yang mengajukan perdamaian abadi, pembicaraan tingkat tinggi, kerjasama ekonomi, perbaruan kereta api, perjalanan udara dan jalan bebas hambatan, dan barisan bersama penggembira olimpiade.
Amerika Serikat dan Korea Selatan sebelumnya menuduh Korea Utara sebagai negara yang mendukung terorisme. Pengeboman 1983 yang membunuh anggota Pemerintah Korea Selatan dan perusakan pesawat terbang Korea Selatan telah dituduhkan kepada Korea Utara. Korea Utara juga dianggap bertanggung jawab atas penculikan 13 warga negara Jepang pada 1970-an dan 1980-an, lima dari mereka dikembalikan ke Jepang pada 2002. Pada 11 Oktober 2008, Amerika Serikat menghapus Korea Utara dari daftar negara pendukung terorisme ini.
Sebagian besar kedutaan asing yang memiliki hubungan diplomatik dengan Korea Utara berada di Beijing, bukan di Pyongyang.
Kim Jong-il adalah Komandan Agung Tentara Rakyat Korea dan Ketua Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara. Tentara Rakyat Korea adalah nama untuk personel bersenjata kolektif dari militer Korea Utara. Tentara ini memiliki empat cabang: Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Departemen Keamanan Negara. Menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Korea Utara memiliki angkatan darat terbesar kelima di dunia, pada perkiraan 1,21 juta personel bersenjata, dengan kira-kira 20% pria berusia 17–54 tahun di dalam angkatan darat regular. Korea Utara memiliki persentase personel militer tertinggi per kapita di antara negara-negara lain di dunia, dengan hampir 1 serdadu terdaftar untuk setiap 25 warga negara. Strategi militer Korea Utara dirancang untuk menyusupkan agen dan menyabotase di belakang barisan musuh pada saat perang dengan banyak Tentara Rakyat Korea yang ditugaskan di sepanjang Zona Demiliterisasi Korea. Tentara Rakyat Korea menjalankan sejumlah besar kelengkapan, meliputi 4.060 tank, 2.500 APC, 17.900 artileri (termasuk mortir), 11.000 senjata pertahanan udara di Angkatan Darat; sekurang-kurangnya 915 kapal perang di Angkatan Laut dan 1.748 pesawat tempur di Angkatan Udara. Kelengkapan yang dimaksud adalah campuran peralatan sisa-sisa Perang Dunia II, umumnya teknologi Perang Dingin yang terproliferasi, dan banyak lagi senjata modern Soviet. Menurut media resmi Korea Utara, belanja terencana militer untuk 2009 adalah 15,8% PDB.
Korea Utara memiliki program senjata peluru kendali balistik dan nuklir aktif dan telah menjadi subjek bagi beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1695 pada Juli 2006, Nomor 1718 pada Oktober 2006, dan Nomor 1874 pada Juni 2009, untuk menyudahi uji nuklir dan peluru kendali.
Korea Utara juga menjual peluru kendali dan peralatan militernya ke berbagai negara. Pada April 2009, PBB menyebut Perusahaan Penjualan Pembangunan dan Pertambangan Korea (alias KOMID) sebagai agen penjual utama Korea Utara dan pengekspor terbesar alat-alat peluru kendali balistik dan senjata konvensional. PBB juga menyebut Korea Ryonbong sebagai penyokong penjualan segala hal yang berhubungan dengan militer Korea Utara
Korea Utara menganut sistem ekonomi industrialisasi, autarki, dan sangat terpusat (ekonomi komando). Dari lima negara sosialis yang tersisa di dunia, Korea Utara adalah satu dari hanya dua (bersama-sama dengan Kuba) dengan ekonomi yang dimiliki negara dan direncanakan oleh pemerintah sepenuhnya.
Kebijakan isolasi Korea Utara berarti bahwa perdagangan internasional sangatlah dibatasi, hambatan potensial yang signifikan untuk pertumbuhan ekonomi. Namun, karena lokasinya yang strategis di Asia Timur menghubungkan empat ekonomi utama dan memiliki tenaga kerja murah, muda, dan terlatih, diprojeksi bahwa ekonomi Korea Utara mampu bertumbuh pada kisaran 6–7% per tahun "dengan ukuran reformasi dan insentif yang benar".
Hingga 1998, PBB menerbitkan gambaran IPM dan Pendapatan per kapita untuk Korea Utara, yaitu IPM-nya berada pada tingkatan sedang 0,766 (peringkat ke-75) dan pendapatan per kapitanya $4.058. Gaji rata-rata adalah sekitar $47 per bulan.[66] Meskipun terdapat masalah ekonomi yang substansial, mutu kehidupan rakyat membaik dan upah pekerja naik dengan mantap. Pasar privat berskala kecil, disebut janmadang, hadir di seluruh penjuru negara ini dan melayani penduduk dengan makanan dan komoditas tertentu dari impor yang ditukar dengan uang, dengan demikian membantu mencegah kelaparan.
Ekonomi Korea Utara seutuhnya dinasionalisasi, artinya bahwa rasio makanan, perumahan, kesehatan, dan pendidikan diberikan dari negara secara gratis. Pembayaran pajak dihapuskan sejak 1 April 1974. Pada abad ke-21, pertumbuhan PDB Korea Utara cukup lambat tetapi pasti, kendati di beberapa tahun terakhir, pertumbuhan itu dipercepat hingga 3,7% pada 2008, angka tercepat di hampir dasawarsa terakhir, terutama disebabkan oleh naik drastisnya sektor pertanian sebesar 8,2%. Ini menjadi kejutan manakala sebagian besar ekonomi dunia mengalami pertumbuhan minus karena adanya krisis keuangan global 2008–2009.
Menurut taksiran pada 2002, sektor dominan di dalam ekonomi Korea Utara adalah industri (43,1%), diikuti oleh jasa (33,6%) dan pertanian (23,3%). Pada 2004, ditaksir bahwa pertanian membekerjakan 37% dari tenaga kerja, sementara industri dan jasa membekerjakan sisanya, 63%. Industri utama meliputi produk militer, pembuatan mesin, energi listrik, kimia, pertambangan, perlogaman, sandang, pengolahan makanan dan pariwisata.
Pada 2005, Korea Utara diperingkat oleh FAO menurut taksiran sebagai produsen buah segar nomor 10 terbesar di dunia dan peringkat ke-19 produsen apel. Korea Utara punya sumber daya alam yang substansial dan merupakan produsen besi terbesar ke-18 dan seng, memiliki cadangan batubara terbesar ke-22 di dunia. Korea Utara juga adalah produsen fluor[78] dan produsen tembaga terbesar ke-12 dan garam di Asia. Sumber daya alam utama lainnya misalnya timbal, tungsten, grafit, magnesium, emas, pirit, fluorspar, dan PLTA
Cina dan Korea Selatan masih menjadi penyumbang terbesar bantuan makanan kepada Korea Utara. Amerika Serikat mengobjeksi penyumbangan makanan ini karena kurangnya pengawasan.Pada 2005, pasokan dari Cina dan Korea Selatan berjumlah 1 juta metrik ton bantuan makanan, masing-masing separonya. Selain bantuan makanan, Cina dilaporkan memberikan kira-kira 80 hingga 90 persen impor minyak Korea Utara pada "harga persahabatan" yang jauh lebih murah daripada harga pasar dunia.
Pada 19 September 2005, Korea Utara dijanjikan bantuan bahan bakar dan berbagai-bagai insentif non-pangan lainnya dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Rusia, dan Cina sebagai pengganti penghentian program senjata nuklir dan ikut serta kembali ke dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Penyediaan makanan sebagai ganti untuk penghentian program senjata nuklir berdasarkan sejarahnya telah dihindarkan oleh Amerika Serikat sehingga tidaklah dipersepsikan sebagai "menggunakan makanan sebagai senjata". Bantuan kemanusiaan dari tetangga-tetangga Korea Utara telah dipangkas habis-habisan sebagai upaya provokasi terhadap Korea Utara untuk melanjutkan kembali pembicaraan yang sempat diboikot. Misalnya, Korea Selatan pernah "menunda konsiderasi" 500.000 metrik ton beras untuk Korea Utara pada 2006 tetapi gagasan penyediaan makanan ini sebagai insentif yang terang benderang (sebagai lawan dari pelanjutan kembali "bantuan kemanusiaan umum") telah dihindari.[85] Juga terdapat pengacauan bantuan karena merebaknya perampokan lokomotif yang dipakai oleh Cina daratan untuk mngeirimkan bahan makanan
Pada Juli 2002, Korea Utara mulai menyusun pengalaman dengan kapitalisme perseorangan di Daerah Industri Kaesong.Sejumlah kecil kawasan lainnya telah dirancang sebagai Daerah Administratif Khusus, termasuk Sinŭiju di sepanjang perbatasan Cina dan Korea Utara. Cina dan Korea Selatan adalah mitra perdagangan terpenting Korea Utara, di mana perdagangan dengan Cina bertambah 15% menjadi US$ 1,6 miliar pada 2005, dan perdagangan dengan Korea Selatan bertambah 50% menjadi lebih dari US$ 1 miliar untuk kali pertama pada 2005.[84] Dilaporkan bahwa banyaknya telefon selular di Pyongyang bertambah dari hanya 3.000 pada 2002 menjadi hampir 20.000 pada 2004.[88] Tetapi, pada Juni 2004 telefon selular menjadi dilarang lagi. Sejumlah kecil unsur-unsur kapitalistik secara bertahap meluas dari kawasan percobaan, termasuk sejumlah papan iklan di sepanjang jalan raya tertentu. Para pengunjung yang baru saja ke sana melaporkan bahwa banyaknya pasar petani terbuka telah bertambah di Kaesong dan Pyongyang, juga di sepanjang perbatasan Cina-Korea Utara, melampaui sistem rasio makanan.
Pada sebuah peristiwa di tahun 2003 yang dikenal sebagai "Insiden Pong Su", sebuah kapal kargo Korea Utara diketahui berupaya menyelundupkan heroin ke Australia telah diamankan oleh pihak berwajib di Australia, memperkuat prasangka Australia dan Amerika Serikat bahwa Pyongyang bertumbuh di dalam hal penyelundupan narkotika internasional. Pemerintah Korea Utara menolak segala pelibatan yang dituduhkan.
Pariwisata di Korea Utara dikelola oleh Organisasi Pariwisata milik negara ("Ryohaengsa"). Tiap-tiap wisatawan berkelompok atau juga perseorangan didampingi secara tetap oleh satu atau dua orang "pemandu wisata" yang biasanya berbicara dengan bahasa ibu wisatawan. Sementara pariwisata telah menaik selama beberapa tahun belakangan, para wisatawan dari Dunia Barat masih sedikit. Sebagian besar wisatawan yang berkunjung berasal dari Cina, Rusia, dan Jepang. Warga negara Rusia dari Rusia-bagian-Asia lebih memilih Korea Utara sebagai destinasi wisata karena murah, minim pencemaran, dan cuaca yang lebih hangat. Bagi warga negara Amerika Serikat dan Korea Selatan pada praktisnya mustahil mendapatkan visa untuk ke Korea Utara. Perkecualian bagi warga negara Amerika Serikat dibuat hanya untuk Festival Arirang setahun sekali.
Di dalam wilayah Kŭmgangsan-pegunungan, perusahaan Hyundai mendirikan dan mengoperasikan sebuah kawasan pariwisata khusus. Perkunjungan ke kawasan ini juga dimungkinkan bagi warga negara Amerika Serikat dan Korea Selatan, tetapi hanya di dalam bentuk rombongan (bukan perseorangan) bagi Korea Selatan. Sebuah daerah administratif khusus yang dikenal sebagai Daerah Pariwisata Kŭmgangsan diwujudkan untuk tujuan ini. Perjalanan ke daerah ini untuk sementara dihambat sejak seorang perempuan Korea Selatan yang mendekati zona yang dikontrol militer telah ditembak mati oleh penjaga perbatasan pada akhir 2008
Pada tahun 1990-an Korea Utara menghadapi musibah ekonomi yang signifikan, yang menyertakan sederetan bencana alam, salah urus ekonomi, dan penciutan sumber-sumber penting setelah runtuhnya Blok Timur. Semua ini berujung pada langkanya pasokan makanan pokok, hingga defisit sebesar lebih dari 1 juta metrik ton dari apa yang diperlukan negara ini supaya memenuhi persyaratan makanan minimum yang diterima secara internasional. Musim paceklik di Korea Utara disebut sebagai "Maret Kelabu" yang menyaksikan tewasnya orang Korea Utara antara 300.000 sampai 800.000 jiwa per tahun sepanjang tiga tahun paceklik, yang berpuncak pada 1997, dengan 2,0 juta menjadi "taksiran tertinggi yang mungkin."[94] Kematian itu paling mungkin disebabkan oleh penyakit yang berkaitan dengan paceklik semisal pneumonia, tuberkulosis, dan diare, lebih dari sekadar kelaparan.
Pada 2006, Amnesty International melaporkan bahwa sebuah survey gizi nasional yang dilakukan oleh pemerintah Korea Utara, World Food Programme, dan UNICEF menemukan bahwa 7% anak-anak mengalami kekurangan gizi; 37% kurang gizi kronis; 23,4% berbobot terlampau ringan; dan satu dari tiga ibu kekurangan gizi dan menderita anemia sebagai hasil dari musim paceklik berkepanjangan. Inflasi yang disebabkan oleh reformasi ekonomi 2002, termasuk Songun atau kebijakan "Militer-pertama", ditempatkan untuk menaikkan harga bahan makanan dasar.
Sejarah bantuan Jepang ke Korea Utara ditandai dengan kekacauan; dari sebuah komunitas besar Korea pro-Pyongyang di Jepang hingga ke kegentingan umum setelah peluncuran peluru kendali Korea Utara pada 1998 dan kabar tentang penculikan warga Jepang. Pada Juni 1995 sebuah perjanjian telah dicapai bahwa kedua-dua negara akan bertindak bersama-sama. Korea Selatan akan menyediakan 150.000 metrik ton biji-bijian di dalam kantong tanpa label, dan Jepang akan menyediakan 150.000 metrik ton gratis, dan 150.000 metrik ton lainnya pada suku-suku konsesional. Pada Oktober 1995 dan Januari 1996, Korea Utara lagi-lagi mendekati Jepang untuk mendapatkan bantuan. Pada dua kesempatan yang langka ini, kedua-dua kesempatan itu menjadi momentum yang krusial di dalam evolusi musim paceklik, penentangan dari Korea Selatan dan sumber-sumber politik dalam negeri mencibir persetujuan itu. Bermula pada 1997, Amerika Serikat mulai mengapalkan bantuan makanan ke Korea Utara melalui World Food Programme (WFP) untuk melawan musim paceklik. Pengapalan berpuncak pada 1999 dengan hampir 700.000 metrik ton membuat Amerika Serikat menjadi penyumbang asing terbesar ke Korea Utara pada masa itu. Di bawah pemerintahan Bush, bantuan secara drastis berkurang tahun demi tahun dari 350.000 metrik ton pada 2001 menjadi 40.000 metrik ton saja pada 2004. Pemerintahan Bush menuai kritikan dengan jargon "makanan sebagai senjata" selama pembicaraan tentang program senjata nuklir, tetapi menolak kriteria United States Agency for International Development (USAID) yang sama dengan semua negara dan situasi di Korea Utara telah "membaik secara signifikan sejak keruntuhannya pada pertengahan 1990-an." Produksi pertanian telah menaik dari kira-kira 2,7 juta metrik ton pada 1997 menjadi 4,2 juta metrik ton pada 2004.
Media Korea Utara adalah salah satu yang paling terkendali negara di dunia. Hasilnya, informasi dijaga ketat apakah itu ke luar atau ke dalam Korea Utara. Konstitusi Korea Utara memberikan kebebasan berbicara dan kebebasan pers; tetapi pada tataran praktisnya, pemerintah melarang pelaksanaan hak-hak ini. Pada laporannya tahun 2008, Reporters Without Borders menggolongkan lingkungan media di Korea Utara pada urutan 172 dari 173, lebih baik setingkat dari Eritrea.
Hanya berita yang sehaluan dengan rezim yang diizinkan, sementara berita yang meliputi masalah ekonomi dan politik negara ini, atau kritisisme terhadap rezim, dilarang. Media bertanggung jawab memelihara pemujaan kepribadian terhadap Kim Jong-il, secara berkala melaporkan kegiatan hariannya. Pemasok berita utama bagi media di Korea Utara adalah Korean Central News Agency.
Korea Utara memiliki 12 surat kabar terkemuka dan 20 media cetak non-harian, semua media cetak itu berbeda-beda periode terbitnya dan semuanya dicetak di Pyongyang. Surat kabar harian yang dimaksud misalnya Rodong Sinmun, Joson Inmingun, Minju Choson, dan Rodongja Sinmum. Tidak ada pers milik perseorangan.
Terdapat bus troli dan trem campuran lokal dan impor di pusat-pusat kota di Korea Utara. Kereta-kereta api kuno dibeli dari Eropa dan Cina, tetapi embargo perdagangan telah memaksa Korea Utara untuk membuat kendaraan sendiri. Kereta Api Republik Demokratik Rakyat Korea, "Choson Cul Minzuzui Inmingonghoagug", adalah satu-satunya operator kereta api di Korea Utara. Perusahaan ini punya jejaring rel kereta api sepanjang 5.200 km dengan 4.500 km di antaranya memenuhi Standard gauge. Ada rel sempit kecil yang beroperasi di Semenanjung Haeju. Kereta api itu terdiri dari campuran lokomotif uap dan listrik. Mobil paling banyak dibuat di Korea Utara menggunakan rancangan Soviet. Ada beberapa lokomotif dari Kekaisaran Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa yang masih dipakai. Lokomotif bekas dari Cina (DF4B dini, BJ Hidraulika, dll.) juga masih dioperasikan.
Transportasi air pada sungai-sungai utama dan di sepanjang pesisir memainkan peranan yang semakin penting bagi lalu lintas barang dan manusia. Selain Sungai Yalu dan Taedong, sebagian besar jalur air di daratan, semuanya 2.253 kilometer, dilayani hanya oleh perahu-perahu kecil. Lalu-lintas pesisir adalah yang paling ramai di pantai timur, yang airnya lebih dalam mampu mengakomodasi muatan yang lebih besar. Pelabuhan-pelabuhan utama adalah Nampho di pesisir barat dan Rajin, Chongjin, Wonsan, dan Hamhung di pesisir timur. Pelabuhan yang dimiliki negara ini pada 1990-an memuat kapasitas kira-kira hampir 35 juta ton tiap tahunnya. Pada permulaan 1990-an, Korea Utara memiliki kapal dagang seberang lautan, sebagian besarnya adalah buatan dalam negeri, dengan 68 bahtera (berbobot kotor sekurang-kurangnya 1.000 ton), dengan bobot totalnya yang diizinkan 465.801 ton, yang termasuk di dalamnya 58 kapal kargo dan dua tanker. Terdapat investasi yang berkelanjutan di dalam hal perbaruan dan perluasan fasilitas pelabuhan, pembangunan transportasi terkhusus di Sungai Taedong—dan semakin seimbangnya perbandingan kargo internasional dengan muatan dalam negeri.
Perhubungan internasional udara dari dan ke Korea Utara dibatasi. Terdapat jadual penerbangan berkala dari Bandar Udara Internasional Sunan – 24 kilometer di utara Pyongyang – ke Moskow, Khabarovsk, Beijing, Makau, Vladivostok, Bangkok, Shenyang, Shenzhen, penerbangan carteran dari Sunan ke Tokyo juga ke negara-negara Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika. Sebuah perjanjian untuk merintis pelayanan antara Pyongyang dan Tokyo telah ditandatangani pada 1990. Penerbangan dalam negeri tersedia antara Pyongyang, Hamhung, Wonsan, dan Chongjin. Semua pesawat penerbangan sipil dilayani oleh Air Koryo sebanyak 34 pesawat pada 2008, semua ini dipesan dari Uni Soviet dan kemudian Rusia. Sejak 1976 hingga 1978, empat jet Tu-154 telah ditambahkan menyertai pesawat kecil An-24s kemudian menambahkan empat Ilyushin Il-62M berbadan panjang, tiga Ilyushin Il-76MD pesawat kargo besar dan 2 Tupolev Tu-204-300 berbadan panjang pada 2008.
Satu dari sedikit cara untuk memasuki Korea Utara adalah melalui Jembatan Persahabatan Sino-Korea atau melalui Panmunjeom, bekas penyeberangan Sungai Amnok, dan kemudian penyeberangan Zona Demiliterisasi Korea.
Kendaraan pribadi di Korea Utara adalah pemandangan langka, tetapi sejak 2008, sekira 70% rumah tangga menggunakan sepeda, yang juga memainkan peran yang semakin penting di dalam perdagangan perseorangan berskala kecil.
Menurut CIA World Factbook, angka harapan hidup Korea Utara adalah 63,8 tahun pada 2009, sebuah gambaran kasar yang setara terhadap angka yang dicapai Pakistan dan Myanmar dan sedikit di bawah Rusia. Angka kematian bayi berada pada tingkatan yang tinggi 51,34; suatu angka yang 2,5 kali lebih tinggi daripada angka kematian bayi Republik Rakyat Cina, 5 kalinya Rusia, 12 kalinya Korea Selatan. Menurut The State of the world's Children 2003 UNICEF, Korea Utara berada pada peringkat ke-73 (tempat teratas laju kematian tertinggi), di antara Guatemala (ke-72) dan Tuvalu (ke-74). Angka kesuburan total Korea Utara relatif rendah dengan angka 1,96 pada 2009; hampir sebanding dengan yang dimiliki Amerika Serikat dan Perancis.
Korea Utara berbagai Bahasa Korea dengan Korea Selatan. Terdapat perbedaan dialek di kedua-dua Korea, tetapi perbatasan Utara dan Selatan tidaklah mewakili perbatasan bahasa secara jelas. Sementara di Korea Selatan lebih liberal, adopsi istilah-istilah modern dari bahasa asing lebih dibatasi di Korea Utara. Hanja (Karakter Cina) tidak lagi dipakai di Korea Utara, meski kadang-kadang masih dipakai di Korea Selatan. Kedua-dua Korea berbagi sistem penulisan fonetik yang disebut Chosongul di utara dan Hangul di selatan Zone Demarkasi. Romanisasi berbeda di kedua-dua negara, Korea Utara menggunakan sistem McCune-Reischauer dengan sedikit modifikasi, dan Korea Selatan menggunakan Romanisasi Korea yang Direvisi.
Kedua-dua Korea berbagi warisan yang sama dari agama Buddha dan Konghucu Korea dan sejarah yang masih sangat baru dari agama Kristen dan pergerakan Cheondoisme ("agama Jalan Surgawi"). Konstitusi Korea Utara menyatakan bahwa kebebasan beragama adalah diizinkan. Menurut standar-standar agama Barat, sebagian besar penduduk Korea Utara dapat dikelompokkan sebagai "tidak beragama". Tetapi sebagian besar di antaranya didedinisi "beragama" dari sudut pandang sosiologi dan pengaruh budaya agama-agama tradisional itu semisal Buddha dan Konghucu masih memiliki dampag pada kehidupan kerohanian Korea Utara.
Bagaimanapun, penganut agama Buddha di Korea Utara dilaporkan bernasib lebih baik daripada kelompok agama lin; khususnya Kristen, yang dikatalan menghadapi hukuman dari pihak penguasa. Penganut agama Buddha diberi dana terbatas oleh pemerintah untuk mempromosikan agama itu, karena agama Buddha memainkan peran integral di dalam budaya tradisional Korea.
Menurut Human Rights Watch, kegiatan keagamaan bebas tidak lagi ada di Korea Utara karena pemerintah mensponsori kelompok-kelompok keagamaan hanya untuk menciptakan ilusi kebebasan beragama.
Menurut Religious Intelligence, situasi keagamaan di Korea Utara adalah sebagai berikut:
• Tidak beragama: 15.460.000 pengikut (64,31% penduduk, majoritas yang dominan, mereka adalah penghayat filsafat Juche)
• Shamanisme Korea: 3.846.000 pengikut (16% penduduk)
• Cheondoisme: 3.245.000 pengikut (13,50% penduduk)
• Agama Buddha: 1.082.000 pengikut (4,50% penduduk)
• Agama Kristen: 406.000 pengikut (1,69% penduduk)
Pyongyang adalah pusat kegiatan Kristen di Korea sebelum Perang Korea. Kini, empat gereja yang diawasi negara ada di sini, di mana kebebasan beragama merupakan kasus khusus bagi orang asing. Statistik pemerintah resmi melaporkan bahwa ada 10.000 Protestan dan 4.000 penganut Katolik Roma di Korea Utara.
Menurut peringkat yang diterbitkan oleh Open Doors, sebuah organisasi yang membantu orang Kristen yang dizalimi, Korea Utara kini menjadi negara dengan penzaliman terbanyak terhadap orang Kristen di antara negara-negara lain sedunia. Kelompok pembela Hak Asasi Manusia seperti Amnesty International juga mengungkapkan perhatian terhadap penzaliman keagamaan di Korea Utara.[
Pendidikan di Korea Utara dikendalikan oleh pemerintah dan wajib sampai jenjang menengah pertama. Pendidikan di Korea Utara gratis, dan negara menyediakan bagi para siswa tidak hanya fasilitas pengajaran dan pendidikan gratis, tetapi juga seragam dan buku panduan. Heuristika secara aktif diterapkan untuk membangun kemandirian dan kekreatifan para siswa. Pendidikan wajib berlangsung sebelas tahun, dan melewati satu tahun jenjang pra-sekolah, empat tahun pendidikan dasar dan enam tahun pendidikan menengah. Kurikulum sekolah di Korea Utara terdiri dari pokok-pokok bahasan akademik dan politik.
Sekolah dasar dikenal sebagai sekolah rakyat dan anak-anak belajar di sekolah ini pada umur 6-9 tahun. Mereka kemudian melanjutkan ke sekolah lanjutan umum atau sekolah lanjutan kejuruan, bergantung pada kemampuan masing-masing. Mereka memasuki sekolah lanjutan pada usia sepuluh tahun dan menyudahinya pada umur 16 tahun.
Pendidikan tinggi tidaklah wajib di Korea Utara. Tahapan ini terdiri dari dua sistem: pendidikan tinggi akademik dan pendidikan tinggi untuk pendidikan berlanjut. Sistem pendidikan tinggi akademik meliputi tiga jenis lembaga: universitas, sekolah profesional, dan sekolah teknik. Tahap pascasarjana untuk magister dan doktoral diserahkan kepada universitas bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya. Dua universitas ternama di Korea Utara adalah Universitas Kim Il-sung dan Universitas Sains dan Teknologi Pyongyang, kedua-duanya di Pyongyang.
Korea Utara adalah salah satu negara yang paling melek huruf di dunia, dengan proporsi 99%.Pelayanan kesehatan dan perawatan medis di Korea Utara tidak menuntut pembebanan biaya kepada rakyat Korea Utara menganggarkan 3% PDB-nya untuk sektor kesehatan. Sejak tahun 1950-an, Korea Utara telah meletakkan fondasi yang kuat di sektor kesehatan, dan antara tahun 1955 dan 1986, banyaknya rumah sakit bertambah dari 285 menjadi 2.401, dan banyaknya puskesmas – dari 1.020 menjadi 5.644. Ada beberapa rumah sakit yang khusus melayani orang-orang pabrik dan pertambangan. Sejak tahun 1979 penekanan yang lebih bagus diletakkan pada Obat-obatan Korea tradisional, didasarkan pada perawatan yang memanfaatkan produk herbal dan akupunktur.
Sistem kesehatan Korea Utara menurun drastis sejak tahun 1990-an karena bencana alam, masalah ekonomi, dan makanan dan menipisnya cadangan bahan bakar. Banyak rumah sakit dan puskesmas di Korea Utara kini sangat kekurangan peralatan medis dan obat-obatan, air mengalir, dan kelistrikan. Hampir 100% penduduk memiliki akses terhadap air dan sanitasi, tetapi tidak sepenuhnya ideal. Penyakit infeksi semisal tuberkulosis, malaria, dan hepatitis B dianggap menjadi endemik bagi negara ini
Menurut taksiran 2009, angka harapan hidup orang Korea Utara adalah 63,8 tahun, sebuah gambaran yang mirip dengan Pakistan dan Myanmar dan sedikit lebih rendah daripada Rusia. Di antara masalah kesehatan lainnya, banyak warga Korea Utara menderita akibat kekurangan gizi, yang disebabkan oleh musim paceklik yang berkaitan dengan gagalnya panen, program distribusi makanan, dan kebijakan prioritas bagi militer. Sebuah laporan PBB tahun 1998, World Food Program (program pangan dunia) melaporkan bahwa 60% anak-anak menderita kekurangan gizi, dan 16% kurang gizi akut. Hasilnya, mereka yang menderita selama bencana selalu saja menghadapi masalah kesehatan.
Beberapa organisasi hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, menilai Korea Utara sebagai salah satu negara yang memiliki catatan hak asasi manusia terburuk Orang Korea Utara sering disebut sebagai "orang yang paling diperlakukan brutal di dunia", karena beberapa batasan yang ketat diletakkan di atas kebebasan politik dan ekonomi mereka. Pengungsi Korea Utara telah menyaksikan keberadaan perkampungan penjara dan tahanan dengan kira-kira 150.000 sampai 200.000 penghuni (setara 0,85% seluruh penduduk), dan telah melaporkan adanya penyiksaan, kelaparan, pemerkosaan, pembunuhan, percobaan medis, buruh paksa, dan pengguguran janin paksa.
Sistem ini sedikit berubah pada akhir 1990-an, ketika jumlah penduduk menjadi sangat sedikit. Di banyak kasus, ketika pemberangusan modal menjadi de facto, ia digantikan oleh beberapa pemberangusan yang ringan. Praktik suap-menyuap menjadi lumrah di negara ini. Banyak orang Korea Utara kini secara ilegal memakai pakaian yang berasal dari Korea Selatan, mendengarkan musik Korea Selatan, menonton kaset atau CD video Korea Selatan, dan bahkan menangkap siaran radio atau televisi Korea SelatanPemerintah Korea Utara menjalankan kendali yang ketat ke atas seluruh sendi kebudayaan nasional, dan pengendalian ini digunakan untuk mengabadikan pemujaan kepribadian yang tidak jauh dari Kim Il-sung, dan, untuk sebuah perpanjangan yang tidak begitu besar, bagi Kim Jong-il. Ketika mengunjungi Korea Utara pada 1979, seorang wartawan Bradley Martin melaporkan bahwa hampir semua musik, seni, dan pahatan yang telah dia amati disajikan demi mengagung-agungkan "Pemimpin Agung" Kim Il-sung, yang mana pemujaan kepribadian ini kemudian diperpanjang kepada puteranya, "Pemimpin Terkasih" Kim Jong-il. Lagu Tiada Ibu Pertiwi Tanpamu, dinyanyikan oleh Koor Tentara Korea Utara, digubah terkhusus untuk Kim Jong-Il dan merupakan salah satu dari komposisi nada yang paling merakyat di negara ini. Kim Il-sung resminya masih saja dipandang sebagai "Presiden Abadi" bangsa. Beberapa bangunan ciri khas kota di Korea Utara dinamai menurut nama Kim Il-sung, misalnya Universitas Kim Il-sung, Stadion Kim Il-sung, dan Alun-Alun Kim Il-sung. Para pencela telah dikutip dengan mengatakan bahwa sekolah-sekolah Korea Utara mempertuhankan kedua-dua ayah dan anak itu. Kim Il-sung menolak tuduhan bahwa ia menciptakan upaya pemujaan ke arah dirinya sendiri dan menuduh siapa saja yang mengemukakan pendapat ini sebagai "faksionalisme".
Kritikan yang memelihara Kim Jong-il adalah pusat dari pemujaan kepribadian yang dikerjakan bersama-sama yang diwariskan dari ayahnya dan pendiri Korea Utara, Kim Il-sung.Dia seringkali menjadi pusat perhatian seluruh kehidupan awam di Korea Utara. Hari kelahirannya adalah hari libur terpenting di negara ini. Pada peringatan kelahiran yang ke-60 (menurut tanggal kelahiran resminya), perayaan massal yang diselenggarakan di seluruh pelosok negara ini. Pemujaan kepribadian Kim Jong-il, kendati signifikan, tidaklah segencar terhadap ayahnya. Pada 2004, beberapa potret resminya diambil dari gedung-gedung umum. Satu sudut pandang adalah bahwa pemujaan kepribadian Kim Jong Il semata-mata demi menghargai Kim Il-sung atau menghindari proses peradilan karena kegagalan membayar sewa rumah. Sumber-sumber media dan pemerintah dari luar Korea Utara pada umumnya mendukung pandangan ini, sementara sumber-sumber pemerintah Korea Utara mengatakan bahwa hal ini adalah murni pemujaan terhadap pahlawan sejati.
Kebijakan Korea Utara adalah mencari penyatuan kembali (reunifikasi) tanpa adanya campur tangan pihak asing (luar Korea), melalui suatu struktur federal mempertahankan kepemimpinan dan sistem masing-masing. Korea Utara dan Korea Selatan menandatangani Pernyataan Bersama Utara-Selatan 15 Juni di mana kedua-dua pihak berjanji untuk mencari cara supaya dapat menyatu kembali secara damai. Republik Federal Demokratik Korea adalah negara yang diajukan yang pertama disebutkan oleh Presiden Kim Il Sung pada 10 Oktober 1980 di dalam proposal federasi antara Korea Utara dan Korea Selatan di mana sistem politik masing-masing pada mulanya akan dipertahankan.

credit by wikipedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar